Periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali tergerus dan menyentuh Rp18.101 per dolar AS pada Kamis (9/7/2026) siang. Dua faktor utama yang menekan, menurut Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi, adalah membesarnya defisit APBN dan eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Ibrahim memaparkan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang Semester I-2026 telah mencapai Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melampaui posisi Mei 2026 yang kala itu tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

"Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah," ujar Ibrahim, Kamis (9/7).

Ibrahim menguraikan, dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja ketimbang penerimaan negara. Sejumlah ekonom, menurutnya, menilai posisi defisit ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara.

Data realisasi APBN Semester I-2026 menunjukkan penerimaan negara sebesar Rp1.459,4 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp1.656 triliun. Selisih itulah yang membentuk lubang anggaran Rp196,5 triliun.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada pukul 12.05 WIB tercatat melemah 0,48% ke level Rp18.101 per dolar AS. Sehari sebelumnya, Rabu (8/7), rupiah spot ditutup turun 0,19% ke Rp18.014 per dolar AS.

Tekanan tidak datang dari dalam negeri saja. Ibrahim menyebutkan, eskalasi ketegangan antara AS dan Iran turut memberatkan pergerakan rupiah. Presiden AS Donald Trump menyatakan perjanjian damai AS-Iran batal.

"Perang kembali terjadi, harga minyak mentah WTI diperkirakan akan kembali menguat di atas US$100 per barel," kata Ibrahim.

Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik geopolitik itu dinilai berpotensi memperburuk tekanan pada neraca perdagangan dan memperkuat dorongan pelemahan rupiah lebih lanjut.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada hari ini bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.