Periskop.id - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Metro Jakarta Timur mulai melakukan penyelidikan terkait dugaan penipuan yang dilakukan penyelenggara pernikahan atau wedding organizer (WO) berinisial R. Polisi bahkan turun langsung untuk memeriksa lokasi yang disebut sebagai kantor operasional WO di kawasan Jakarta Garden City (JGC), Cakung, Jakarta Timur. 

"Kami rencana hari ini mau mengecek terlebih dahulu ke JGC. Katanya kan kantornya ada di sana. Kita mau cek seperti apa di lokasi tersebut terkait dugaan penipuan WO," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKP Bayu Kurniawan di Jakarta, Senin (25/5). 

Bayu menjelaskan, laporan polisi terkait kasus tersebut baru diterima pada Minggu (24/5). Setelah laporan dibuat, penyidik langsung memeriksa sejumlah saksi, termasuk pasangan calon pengantin yang menjadi korban.

"LP sudah dibuat, otomatis kita melakukan kegiatan penyelidikan terlebih dahulu. Kita sudah mengklarifikasi tiga orang saksi, terdiri dari dua korban suami istri dan satu saksi lain yang merupakan saudara dari pihak pengantin perempuan," jelas Bayu.

Kasus ini bermula saat pasangan Aldi (32) dan Feny (32) menggunakan jasa WO bernama Marwah setelah melihat promosi melalui media sosial Instagram. Mereka tertarik dengan paket pernikahan yang ditawarkan, lalu melakukan pembayaran uang muka hingga pelunasan secara bertahap.

"Awalnya, saya dapat info dari Instagram. Setelah lihat daftar harga (price list) dan paket-paketnya, saya bayar DP dulu. Total kerugian Rp85,5 juta," kata Feny.

Menurut Feny, awalnya proses persiapan pernikahan berjalan normal. Mereka mengikuti sesi test food, bertemu sejumlah vendor dekorasi, make-up artist (MUA), MC, hingga fitting pakaian pengantin di kantor WO di kawasan JGC. Namun, kejanggalan mulai terasa saat technical meeting dilakukan secara daring dan dinilai tidak profesional.

"Technical meeting cuma sekitar 10 menit dan sangat tidak detail. Saya tanya soal rundown, alur masuk venue, pembagian sesi tamu, semuanya dijawab nanti diinformasikan satu hari sebelum acara (H-1)," jelas Feny.

Situasi semakin mencurigakan ketika pihak Gedung Islamic Center Bekasi menghubungi korban dan menyebut pembayaran venue belum dilunasi oleh WO. "Dari pihak Islamic Center bilang masih kurang pembayaran sekitar Rp17,5 juta. Ternyata, pihak WO baru bayar DP sekitar Rp6 juta," ujar Feny.

Korban kemudian berusaha menghubungi pihak WO, namun komunikasi semakin sulit. Hingga akhirnya pada H-1 pernikahan, Aldi dan Feny mendatangi kantor WO di JGC dan mendapati lokasi tersebut sudah kosong.

"Pas kita datang, ternyata galerinya sudah kosong. Kata orang sekitar, pindah ke Rorotan," ungkap Aldi.

Pasangan itu lalu mencari gudang WO di kawasan Rorotan dan bertemu dengan pihak pengelola. Namun, menurut Aldi, pihak WO terus memberikan alasan terkait pembayaran venue dan operasional acara. "Kami minta kepastian pembayaran karena sudah H-1. Mereka bilang deposito belum cair dan janji akan dibayar jam empat sore," ucap Aldi.

Pihak WO bahkan sempat menandatangani surat pernyataan di atas materai terkait tanggung jawab pelaksanaan acara. Namun setelah itu, pemilik WO disebut pergi dan tidak dapat dihubungi kembali.

Situasi semakin kacau ketika sejumlah vendor dekorasi dan katering mengaku belum mendapat arahan kerja maupun pembayaran dari pihak WO. "Kami akhirnya yakin acara resepsi kemungkinan besar tidak akan berjalan," tutur Aldi.

Meski resepsi gagal digelar sesuai rencana, akad nikah pasangan tersebut tetap berlangsung secara sederhana dengan bantuan sejumlah vendor yang bersedia membantu secara pribadi. Pihak gedung juga disebut memberikan toleransi penggunaan lokasi agar akad tetap dapat dilaksanakan.

Buat Laporan
Polisi kini mendalami keberadaan kantor WO tersebut sekaligus menelusuri pemilik WO berinisial R yang diduga menghilang setelah menerima pembayaran dari korban. "Dari keterangan korban, pemilik WO sudah tidak bisa dihubungi. Inisial R," ungkap Bayu.

Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Timur meminta para korban dugaan penipuan oleh penyelenggara pernikahan (wedding organizer/WO) membuat laporan kepolisian.

Calon pengantin yang menjadi korban dugaan penipuan WO tersebut tidak bisa menggelar pesta pernikahan di Bekasi sesuai yang dijanjikan.

"Silakan lapor, calon pengantin yang ada di video Instagram itu rencana baru hari ini mau datang dilaporkan, kantor WO-nya di Cakung," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur Bayu Kurniawan saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Bayu menyebut pihaknya siap menerima laporan dari calon pengantin maupun pihak lain yang merasa dirugikan atas dugaan penipuan tersebut.

Hal itu disampaikan menyusul viralnya video di media sosial yang memperlihatkan kondisi resepsi pernikahan di salah satu gedung di Bekasi berlangsung secara sederhana tanpa dekorasi dan konsumsi yang semestinya disiapkan pihak WO.

Sekadar mengingatkan, kasus dugaan penipuan wedding organizer belakangan memang kerap terjadi, terutama melalui promosi media sosial dengan paket harga murah dan fasilitas lengkap. Berdasarkan sejumlah laporan konsumen di berbagai daerah, modus yang sering digunakan adalah meminta pelunasan jauh sebelum acara, namun vendor gagal memenuhi kewajiban saat hari pelaksanaan.

Kementerian Perdagangan dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sebelumnya juga pernah mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati memilih vendor jasa pernikahan. Konsumen disarankan memeriksa legalitas usaha, meminta kontrak kerja tertulis yang rinci, serta melakukan pembayaran bertahap sesuai progres pekerjaan.

Dalam kasus ini, polisi menyebut penyelidikan masih terus berjalan untuk memastikan keberadaan kantor WO dan mengumpulkan bukti tambahan. "Penyelidikan masih berjalan. Kita akan cek langsung ke lokasi dan mengumpulkan informasi lebih lanjut," tegas Bayu.