periskop.id - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengakui dirinya sebagai seorang amatir di panggung politik praktis selama memimpin kementerian tersebut.
Nadiem mengungkapkan, latar belakangnya sebagai profesional membuatnya kerap mengabaikan ritual komunikasi politik yang lazim di lingkungan pemerintahan.
“Harus saya akui, saya memang amatir di bidang politik. Berbagai undangan acara saya tolak apabila tidak berhubungan langsung dengan program saya, sehingga banyak pihak tersinggung. Saya kurang sowan ke berbagai tokoh karena tidak memahami seluk-beluk peta politik,” kata Nadiem di Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, Selasa (2/6).
Nadiem juga menyampaikan, kebiasaan kerjanya yang serba cepat kerap dinilai negatif oleh lingkungan sekitar.
“Dalam berbagai rapat, saya sering memotong basa-basi di awal pertemuan karena ingin masuk ke materi secepat mungkin, sehingga terlihat tidak santun. Saya kadang pelit waktu dengan media karena merasa lebih penting kerja nyata daripada sekadar terlihat bekerja,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nadiem mengungkapkan benturan budaya kerja yang ia alami. Menurutnya, efisiensi dan kelugasan yang dihormati di dunia profesional korporasi justru menjadi bumerang ketika diterapkan mentah-mentah dalam birokrasi pemerintahan Indonesia. Sifat-sifat tersebut pada akhirnya memicu sentimen negatif terhadap pribadinya.
“Di dunia profesional, semua perilaku ini dihargai. Tetapi di dalam pemerintahan, hal tersebut menimbulkan persepsi angkuh, kurang berbudaya, dan tidak santun. Ini adalah kesalahan saya saat menjabat menteri. Saya lupa bahwa jabatan menteri merupakan jabatan politik, di mana hubungan baik lintas institusi dan organisasi harus menjadi prioritas,” ujar Nadiem.
Nadiem mengaku terlalu fokus pada percepatan transformasi sehingga kurang merangkul elemen lama. Ia menyadari, meremehkan ritual politik membuatnya kehilangan dukungan berkesinambungan.
“Saya begitu gigih melakukan transformasi dengan cepat, tetapi kurang merangkul pihak-pihak lama dalam upaya perubahan tersebut. Saya meremehkan ritual politik, padahal itulah yang bisa membuat perubahan berkesinambungan karena didukung semua pihak,” tuturnya.
Nadiem pun menyampaikan nasihat penting bagi anak-anak muda yang berniat melangkah ke jalur pengabdian negara. Ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia di sela idealisme kerja karena mengabaikan hal tersebut bisa berakibat fatal secara politis.
“Saran saya, untuk generasi berikutnya yang sedang mempertimbangkan mengabdi kepada negara, temukanlah keseimbangan antara profesionalisme dan tata krama politik. Gesekan kecil bisa menjadi dendam besar,” ungkap Nadiem.
Diketahui, Nadiem dituntut hukuman 18 tahun penjara. Selain pidana penjara, ia juga dituntut membayar denda sebesar Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan. Jaksa menuntut pidana tambahan berupa uang pengganti dengan nilai fantastis mencapai Rp5,6 triliun.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar