Persikop.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pemerintahannya tidak akan menyerah pada tekanan asing maupun memenuhi tuntutan yang dianggap berlebihan dalam proses negosiasi internasional. Khususnya terkait isu nuklir dan konflik geopolitik dengan Amerika Serikat serta sekutunya.
Dalam pertemuan dengan anggota Kamar Dagang, Industri, Pertambangan, dan Pertanian Iran pada Senin, Pezeshkian menyebut pemerintah telah mengatur strategi negosiasi agar kepentingan nasional Iran tetap terlindungi sepenuhnya. Dengan sikap itu, kata dia, Republik Islam Iran tidak akan tunduk pada tekanan politik maupun ekonomi dari pihak luar.
Ia menilai negara-negara lawan Iran kini mengubah pendekatan dari konfrontasi militer menjadi tekanan ekonomi setelah upaya sebelumnya dinilai gagal. Meski demikian, Iran diyakini mampu melewati situasi tersebut apabila pemerintah dan sektor swasta bergerak bersama dalam semangat solidaritas nasional.
Dalam pernyataannya melalui media sosial X, Pezeshkian juga menegaskan Iran tetap membuka ruang diplomasi untuk meredakan ketegangan.
"Semua jalur tetap terbuka dari kami. Memaksa Iran untuk menyerah dengan cara kekerasan hanyalah ilusi semata. Sikap saling menghargai dalam diplomasi jauh lebih bijak, aman, dan berkelanjutan daripada peperangan," ujar Pezeshkian dikutip Senin (25/5).
Pernyataan itu muncul di tengah upaya mediasi sejumlah negara untuk mencari titik temu antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran. Sumber pemerintah Turkiye yang dikutip RIA Novosti menyebut komunikasi diplomatik antara kedua negara masih berlangsung meski situasi kawasan tetap tegang.
Mediator Internasional
Menurut sumber tersebut, mediator internasional saat ini membahas sejumlah parameter penting dalam potensi kesepakatan baru, termasuk mekanisme pengawasan, tahapan implementasi, hingga jaminan politik bagi kedua pihak.
"Kontak mediasi terus berlangsung. Parameter yang mungkin dalam potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran saat ini sedang dibahas, termasuk masalah jaminan, tahapan perjanjian, dan mekanisme pengawasan," kata sumber tersebut.
Sumber itu juga menyebut peluang kompromi politik antara Iran dan AS masih terbuka karena kedua negara dinilai sama-sama berkepentingan menghindari konfrontasi militer langsung yang dapat memicu krisis lebih luas di Timur Tengah dan mengganggu ekonomi global.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan, Washington masih memiliki peluang besar mencapai kesepakatan sementara dengan Iran terkait isu nuklir. Laporan The New York Times pekan lalu bahkan menyebut, salah satu opsi kesepakatan yang sedang dibahas mencakup penyerahan stok uranium Iran yang diduga telah diperkaya, meski detail finalnya belum diumumkan secara resmi.
Turkiye sendiri mendorong agar setiap kesepakatan yang tercapai tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu menjadi fondasi stabilitas jangka panjang di kawasan.
Ketegangan Iran dan AS meningkat tajam setelah konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang. Meski gencatan senjata diumumkan pada 8 April dan pembicaraan lanjutan sempat digelar di Islamabad, negosiasi belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Di tengah situasi tersebut, AS juga mulai menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran, yang dinilai Teheran sebagai bagian dari tekanan ekonomi lanjutan terhadap Republik Islam tersebut. Pengamat hubungan internasional menilai perkembangan negosiasi Iran-AS akan sangat menentukan stabilitas geopolitik Timur Tengah, termasuk dampaknya terhadap harga energi global dan jalur perdagangan internasional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar