Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi memperkenalkan inovasi terbaru dalam sistem pengawasan Program Makan Bergizi Gratis melalui pengembangan aplikasi Reviu Menu MBG. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa setiap hidangan yang sampai ke tangan penerima manfaat memenuhi standar kualitas yang ketat. 

Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa sistem yang juga dikenal sebagai aplikasi Organoleptik ini dirancang untuk memperkuat kewaspadaan serta kepedulian para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beserta seluruh mitra kerja dalam menjaga mutu makanan secara konsisten.

Advertisement

Sistem pengawasan ini memberikan terobosan berupa mekanisme kontrol yang dilakukan secara langsung di lapangan oleh pihak yang bersentuhan langsung dengan program. Pengguna utama dari aplikasi ini adalah orang-orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab atau PIC pada Kelompok Penerima Manfaat. 

Di lingkungan pendidikan, tugas ini diberikan kepada guru yang ditunjuk oleh pihak sekolah, sementara di tingkat masyarakat umum dilakukan oleh Kepala Posyandu. Begitu paket makanan bergizi diterima, para penanggung jawab ini memiliki wewenang untuk langsung memberikan penilaian terhadap kualitas makanan melalui aplikasi yang sudah terintegrasi.

Indikator Penilaian yang Transparan dan Terukur

Aplikasi Reviu Menu MBG mencakup sejumlah parameter penilaian yang sangat mendetail guna memudahkan proses evaluasi. Indikator yang dinilai meliputi ketepatan waktu pengiriman, aroma, rasa, hingga keberagaman atau variasi menu yang disajikan setiap harinya. 

Dengan adanya indikator yang jelas tersebut, setiap kekurangan dalam pelaksanaan program di lapangan dapat terdeteksi dengan cepat dan memberikan data yang akurat bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan segera.

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun melalui Dashboard Reviu Menu MBG hingga Sabtu (23/5) pukul 21.31 WIB, sistem telah mencatat sebanyak 1.707 laporan masuk dari berbagai wilayah di Indonesia. 

Hasil pantauan Reviu Menu MBG hingga Sabtu (23/5) pukul 21.31 WIB, tercatat sebanyak 1.707 laporan masuk dari berbagai wilayah di Indonesia. Dokumentasi: BGN/dok.

Hasil pantauan data tersebut menunjukkan performa program yang sangat positif, di mana sebanyak 1.705 laporan atau sekitar 99,88% menyatakan bahwa makanan yang didistribusikan dalam kondisi layak dikonsumsi. 

Sebaliknya, hanya ditemukan dua laporan yang menyebutkan bahwa makanan berada dalam kondisi tidak layak konsumsi.

Rincian Capaian Kualitas dan Ketepatan Waktu Distribusi

Data statistik dalam aplikasi tersebut juga memberikan gambaran mengenai disiplin logistik dan kualitas sensoris makanan. Dalam hal ketepatan waktu distribusi, tingkat keberhasilannya mencapai 97,95%. 

Statistik feedback dari Dashboard Reviu Menu MBG hingga Sabtu (23/5) pukul 21.31 WIB. Dokumentasi: BGN/dok.

Angka ini berasal dari 1.672 laporan yang mengonfirmasi bahwa makanan diterima tepat waktu atau bahkan lebih awal dari jadwal yang ditentukan, sementara hanya 35 laporan yang mencatat adanya keterlambatan pengiriman.

Dari aspek sensoris atau indra manusia, aroma makanan dinilai dalam kondisi layak pada 1.702 laporan atau mencapai 99,71%. Sementara itu, jika dilihat dari tampilan visual atau presentasi makanan, sebanyak 1.697 laporan atau 99,41% menyatakan bahwa kondisi makanan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BGN. 

Untuk indikator rasa, mayoritas penerima manfaat memberikan respons positif dengan 1.688 laporan atau 98,89% yang menilai rasa makanan normal dan dapat dinikmati dengan baik.

Membangun Sistem Deteksi Dini Melalui Kontrol Eksternal

Sony menekankan bahwa kehadiran aplikasi ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mencegah terjadinya kendala atau kejadian luar biasa dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. 

Menurutnya, pengawasan kini tidak lagi hanya bergantung pada kesadaran internal pelaksana program, tetapi diperkuat dengan mekanisme kontrol eksternal yang melibatkan masyarakat dan pihak sekolah secara aktif.

“Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian Ka SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan,” ujar Sony, dikutip dari laman resmi BGN, Selasa (26/5).

Pihak BGN berharap keterlibatan aktif para guru dan Kepala Posyandu dalam proses evaluasi ini dapat meningkatkan akurasi data pengawasan di lapangan. Selain sebagai sarana penilaian, aplikasi ini juga berfungsi sebagai sistem deteksi dini untuk menemukan potensi masalah sedini mungkin, baik dalam proses distribusi maupun kualitas rasa makanan.