periskop.id - Ketua Majelis Etik Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Jimly Asshiddiqie, melayangkan kritik keras yang ditujukan kepada para anggota legislatif di Senayan. Jimly mendesak para pencari kebijakan, khususnya di Komisi II DPR RI, untuk menyudahi praktik politik praktis jangka pendek dalam pengisian jabatan di lembaga negara independen.

Ia mengingatkan agar DPR berhenti menitipkan atau menanam figur-figur tertentu di dalam tubuh Ombudsman demi menjaga muruah, kualitas, serta integritas pelayanan publik di Indonesia.

Advertisement

“Kita berharap para anggota dewan, para anggota Komisi II, jangan hanya politiking jangka pendek. Tolonglah negara kita ini pikirin jangka panjang. Ombudsman ini penting untuk kualitas pelayanan publik. Dia mengawasi, ya, kualitas pelayanan publik, kualitas dan integritas. Makanya standarnya harus tinggi. Udah dong jangan tanam-tanam orang di sini,” kata Jimly, di Gedung Ombudsman, Jumat (29/5).

Jimly juga memberikan nasihat bagi para komisioner atau anggota lembaga independen yang berhasil lolos setelah melalui proses seleksi di DPR. Jimly mengungkapkan, dirinya sudah mengingatkan langsung para anggota Ombudsman yang saat ini menjabat agar memutus rantai balas budi politik setelah mereka resmi dilantik.

Menurutnya, komisioner lembaga independen harus berani bersikap profesional tanpa perlu mendengarkan pesanan dari pihak yang mendukung saat pemilihan.

“Kemarin kepada para anggota yang sekarang ini, saya sudah bilang, 'Tolong ya kalian itu harus berterima kasih kepada yang mendukung kalian, memilih kalian. Tapi tolonglah, terimakasihnya sekali aja. Sesudah itu, dah, pikirin satu periode aja biar independen’,” tutur Jimly.

Lebih lanjut, Jimly juga mencontohkan bagaimana independensi seharusnya dijaga dengan berkaca pada posisi para hakim konstitusi yang memiliki masa bakti panjang. Ketika seorang pejabat sudah terpilih masuk ke dalam lembaga negara, mereka semestinya fokus bekerja secara profesional tanpa perlu memikirkan motif politik lain atau jaminan jabatan berikutnya.

Sikap tegak lurus tersebut diharapkan bisa diadopsi oleh seluruh komisioner di lembaga-lembaga independen lain yang ada di Indonesia.

“Kalau dipilih dari presiden 3, dipilih oleh DPR 3, ya terima kasih lah sama yang milih. Tapi cukup satu kali terima kasihnya, habis itu dah profesional, sampai 70 tahun sampai pensiun gitu. Jadi semua lembaga, komisioner-komisioner, anggota lembaga independen itu, saya harapkan yang melalui proses di DPR, cukup berterima kasih satu kali, selebihnya itu bersyukur kepada Allah SWT,” pungkasnya.