Periskop.id - Ketegangan yang terjadi di jalur perdagangan vital dunia, Selat Hormuz, mulai memberikan dampak nyata yang sangat serius bagi sektor pertanian global. Harga pupuk diperkirakan akan melonjak lebih tinggi dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali ke level normal.
Ahmed El-Hoshy, CEO dari Fertiglobe yang merupakan salah satu produsen pupuk yang berbasis di Abu Dhabi, menyatakan bahwa pemulihan pasokan bisa memakan waktu berbulan-bulan meskipun nantinya Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk lalu lintas kapal.
Hingga saat ini, harga pupuk berbasis nitrogen dilaporkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Kondisi tersebut terjadi karena penutupan selat tersebut menghambat sepertiga ekspor urea global serta seperlima ekspor amonia dunia. Kedua zat tersebut merupakan bahan baku utama dalam pembuatan pupuk.
Situasi ini menempatkan para petani dalam posisi yang sangat sulit, mengingat negara-negara tropis mulai mendekati musim tanam pertama tahun ini, sementara harga komoditas tanaman utama belum menunjukkan pergerakan yang menguntungkan bagi petani.
Ancaman Kelangkaan Pangan dan Inflasi
Dampak dari tingginya harga pupuk ini diprediksi akan merembet pada ketersediaan pangan di masa depan. Banyak petani kemungkinan besar akan memilih untuk tidak menggunakan pupuk pada musim tanam tahun ini karena biayanya yang sudah tidak terjangkau.
Menurut El-Hoshy, keputusan ini akan berdampak langsung pada penurunan produktivitas hasil tani yang berujung pada kekurangan stok pangan dan lonjakan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Meskipun nantinya perdamaian tercapai dan kapal-kapal kembali melintasi selat, perusahaan pupuk tidak bisa langsung memulihkan produksi secara instan. Mereka masih harus menunggu produksi gas alam di kawasan Teluk meningkat kembali untuk memulihkan pasokan bahan baku.
"Belum ada alternatif pupuk yang layak secara ekonomi dalam skala besar," kata El-Hoshy saat menjelaskan tantangan industri saat ini kepada Semafor pada Kamis (23/4).
Selain faktor konflik, perubahan iklim juga terus menekan sistem pangan dunia, di mana laporan terbaru PBB memperingatkan bahwa cuaca panas ekstrem telah mendorong para petani ke ambang batas kemampuan mereka.
Peta Risiko Global dan Komoditas yang Terdampak
Data yang dihimpun oleh Semafor menunjukkan bahwa perang yang melibatkan Iran serta gangguan di Selat Hormuz berpotensi besar merusak pasar pupuk dunia. Dampak paling nyata terlihat pada komoditas yang selama ini bergantung pada pasokan dari negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik atau jalur distribusi Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan berjudul Fertilizer and the Middle East conflict edisi Maret 2026 dari The Fertilizer Institute dan American Farm Bureau Federation, terdapat beberapa negara yang masuk dalam kategori risiko tinggi.
Negara-negara tersebut meliputi Bahrain, Kuwait, Iran, Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, negara yang rentan terkena gangguan pasar secara tidak langsung adalah Mesir, Yordania, Lebanon, Oman, dan Suriah.
Menurut laporan tersebut, komoditas pupuk yang paling terpukul adalah berbahan dasar sulfur, di mana hampir separuh atau 45% pangsa pasar global berasal dari zona risiko tinggi ini.
Sulfur merupakan bahan penting dalam berbagai input pertanian dan industri pupuk. Jika pasokannya terhenti, biaya produksi pertanian global akan merangkak naik dan memengaruhi harga pangan di meja makan konsumen.
Urea juga berada dalam posisi yang sangat rentan. Sebanyak 34% pangsa pasar global urea berada di negara yang terlibat langsung konflik, ditambah 14% dari negara dengan risiko tidak langsung. Artinya, hampir 48% pasar urea global kini berada dalam lingkaran risiko.
Komoditas lain seperti amonia dan DAP (Di-Ammonium Phosphate) masing-masing memiliki 23% paparan risiko tinggi di tingkat global. DAP sendiri adalah pupuk yang mengandung fosfor dan nitrogen yang berfungsi memperkuat akar serta daun tanaman.
Sementara itu, komoditas TSP (Triple Superphosphate) yang kaya akan fosfor memiliki paparan risiko sebesar 14% untuk risiko langsung dan 12% risiko tidak langsung.
Jenis pupuk lain seperti MAP (Monoammonium Phosphate) mencatatkan 12% paparan risiko tinggi.
Meskipun gas alam memiliki paparan langsung yang lebih kecil yakni sebesar 13%, fluktuasi pada komoditas ini tetap menjadi kunci karena gas alam adalah bahan baku utama dalam proses produksi pupuk secara keseluruhan.
Rincian Data Paparan Risiko Pupuk Global
Berikut adalah tabel rincian pangsa pasar global pupuk dan bahan baku berdasarkan tingkat risiko konflik di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz:
| Jenis Pupuk / Hasil Alam | Negara Terlibat Langsung / Bergantung Hormuz (%) | Negara Berisiko Gangguan Pasar (%) | Negara Lain (%) |
|---|---|---|---|
| Sulfur | 45 | 1 | 54 |
| Urea | 34 | 14 | 52 |
| DAP (Di-Ammonium Phosphate) | 23 | 7 | 70 |
| Amonia | 23 | 7 | 70 |
| TSP (Triple Superphosphate) | 14 | 12 | 74 |
| Gas Alam | 13 | 1 | 86 |
| MAP (Monoammonium Phosphate) | 12 | 5 | 83 |
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar