periskop.id - Wilmar International Limited angkat bicara terkait pemberitaan media yang menyebut perusahaan tersebut masuk dalam daftar 10 perusahaan kelapa sawit yang tengah diselidiki otoritas Indonesia atas dugaan manipulasi ekspor crude palm oil (CPO).

Dalam pernyataan resminya, Wilmar menegaskan hingga saat ini belum menerima pemberitahuan resmi terkait penyelidikan tersebut, meskipun telah mengetahui adanya laporan media yang beredar.

Advertisement

“Dengan mengacu pada artikel media terbaru yang menyebut Wilmar sebagai salah satu dari 10 perusahaan kelapa sawit yang sedang diselidiki oleh otoritas Indonesia atas dugaan under-invoicing dan transfer pricing ekspor, Wilmar ingin mengklarifikasi bahwa kami belum menerima pemberitahuan resmi terkait penyelidikan tersebut,” tulis manajemen Wilmar dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Singapura (Singapore Exchange/SGX), Jumat (29/5).

Meski demikian, perusahaan menyatakan tetap bersikap kooperatif dan proaktif untuk berkoordinasi dengan otoritas terkait guna memahami isu yang menjadi perhatian pemerintah. Wilmar juga memastikan akan memberikan keterbukaan informasi kepada publik apabila terdapat perkembangan lanjutan terkait status hukum perusahaan dalam kasus ini.

“Jika dan ketika kami menerima pemberitahuan resmi bahwa Wilmar sedang diselidiki atas dugaan under-invoicing dan transfer pricing ekspor, kami akan memperbarui informasi kepada pasar,” tegas manajemen.

Saham Wilmar International terpantau melemah pada perdagangan Kamis (28/5) di tengah mencuatnya dugaan praktik ekspor crude palm oil (CPO).

Berdasarkan data Google Finance, saham Wilmar (F34:SGX) ditutup di level S$3,39, turun 3,69% dibandingkan penutupan sebelumnya di S$3,52. Sepanjang perdagangan, saham sempat menyentuh level tertinggi di kisaran S$3,45 dan terendah di S$3,15.

Pada awal sesi, saham Wilmar sempat terkoreksi 10,51% ke level S$3,15 sebelum sempat pulih. Namun, penguatan tidak bertahan lama dan pergerakan saham cenderung melemah hingga penutupan. Dalam sepekan terakhir, saham Wilmar tercatat turun 9,36%. Meski demikian, secara year to date (YTD) saham ini masih menguat 11,15%.

Pelemahan saham terjadi seiring berkembangnya dugaan praktik manipulasi ekspor CPO yang saat ini masih dalam tahap pendalaman pemerintah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memberi sinyal keterlibatan Wilmar dalam praktik nakal ekpor CPO. Bendahara negara itu mengungkapkan pemerintah masih menghitung potensi kerugian negara akibat dugaan praktik under invoicing dan transfer pricing oleh sejumlah eksportir besar.

Selain itu, ia juga mengonfirmasi adanya nama Salim Ivomas Pratama yang merupakan bagian dari grup Indofood.

"Itu dua betul, dua-duanya. Siapa lagi? Dari mana listnya?" ujar Purbaya.

"Salim Ivomas sepertinya ada," tambahnya. 

Pemerintah menyatakan proses pendalaman masih berlangsung dan belum memasuki tahap penegakan hukum.